Sragen-Kabupaten Sragen mulai mengembangkan sampah pasar menjadi biogas. “Sampah bukan masalah bagi kami, namun justru menjadi berkah. Sebelum program biogas dari sampah pasar ini, pada awalnya kami telah mengumpulkan sampah anorganik untuk bisa didaur ulang. Sampah plastik dan semacamnya kami kumpulkan dan bisa kami jual lagi. Itu jelas menguntungkan dan memberi nilai ekonomi dan lapangan kerja,” kata Bupati Sragen Untung Wiyono pada Lokakarya Konversi Sampah Pasar menjadi Kompos, Biogas, dan Pupuk Cair di Taan Dayu, Sragen, Kamis (10/4).
Sampah yang diolah menjadi biogas dan sisanya menjadi kompos dan pupuk cair itu merupakan kerja sama Pemerintah Kabupaten Sragen dengan Yayasan Danamon Peduli. Pasar Bunder, pasar di Kota Sragen berpotensi menghasilkan lima ton sampah organik per hari, yang dapat diolah menjadi 2 ton pupuk organik. Danamon Peduli telah menyalurkan dana sebesar Rp 70 juta untuk membuat digester, bak-bak pengepresan, juga mesin pencacah sampah, sehingga program itu berjalan.
“Kami pada tahun ini berusaha mengembangkan 60 pengolah sampah sehingga menjadi biogas dan penghasil pupuk. Saat ini baru tiga buah yang sudah terwujud, yakni di Pasar Ciputat, Pasar Bantul, dan Pasar Bunder Sragen. Yang kami utamakan adalah kualitas. Semoga para bupati/wali kota yang telah melihat bukti di tiga tempat itu menjadi tertarik untuk mengembangkan hal yang sama. Kami siap memberi bantuan,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Danamon Peduli, Risa Bhinekawati.
Pada tahun 2008, Danamon Peduli berusaha menyalurkan dana Rp 4,5 miliar. Para bupati/wali kota bisa mengajukan proposal. Pihak Danamon akan melihat langsung ke lokasi, dan bila memenuhi syarat, akan turun tangan langsung. Untuk Pasar Bunder Sragen, penjajakan sudah dimulai sejak enam bulan lalu.
Bila pengolahan sampah pasar itu berkembang baik, pasar akan menjadi sehat dan bersih. Di Indonesia ada sekitar 13.450 pasar tradisional yang sangat berpotensi untuk mengembangkan teknologi sederhana itu. Pedagang makanan di pasar nanti bisa memperoleh saluran biogas untuk memasak. Petani di luar pasar mendapatkan pupuk padat organik maupun pupuk cair. Di samping itu unit pengolah sampah itu setidaknya memberi lapangan kerja kepada empat orang.
Direktur Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia Dr Darmono Taniwiryono menjelaskan, bila kapasitas sampah Pasar Bunder Sragen lima ton per hari maka bisa menghasilkan 1.200 cairan lindi segar (cairan hasil pengepresan sampah cacahan). Air lindi itu dimasukkan ke digester (untuk menghasilkan gas) dengan daya tampung 6.000 liter. Maka setiap hari instalasi pengolahan sampah akan menghasilkan 0,9 hingga 1,8 meter kubik biogas.
“Cukup untuk memasak di 20 warung di sekitar pasar, dan sisa sampah pasar menjadi pupuk organik yang per kilogramnya Rp 400. Pupuk organik dari Pasar Bunder memenuhi standar nasional Indonesia. Selain itu masih ada pupuk cair. Jadi keuntungannya banyak,” tutur Darmono.
Setidaknya dengan menjadikan pasar tradisional lebih bersih dan sehat, akan bisa mempertahankan keberadaan pasar tradisional yang makin menurun sekitar 8,1 persen per tahun karena terdesak pasar modern yang berkembang 31,4 persen per tahun. Ada sekitar 12,6 juta warga Indonesia (bila dihitung dengan keluarganya maka berjumlah sekitar 50 juta) padahal menggantungkan hidupnya di pasar tradisional.
“Keberadaan pasar tradisional harus kita jaga agar 12,6 juta rakyat kecil tidak kehilangan mata pencahariannya. Kualitas pasar harus kita perbaiki bersama agar bersih, sehat, dan nyaman,” kata Risa dari Danamon Peduli. (su herdjoko/wahyu wibisana)
SINAR HARAPAN, Jumat, 11 April 2008
15/06/2009 pada 2:27 pm
assalamualaikum. salam kenal… nama saya klara, jurusan teknik arsitektur USU…mau nanya, ada ga mesin khusus buat ngolah sampah organik jadi biogas? kalo ada boleh minta detail rancangannya… soalnya saya mau buat TA seputar pengolahan biogas dari sampah organik… tolong bantuannya… terima kasih…
15/06/2009 pada 7:29 pm
wa’alaikumussalam.
Ehem …, mintanya “mesin khusus” untuk mengolah sampah organik jadi biogas ya? :-) “Mesin” tersebut biasa dikenal dengan sebutan digester anaerob.
Sebelum bicara detail rancangannya silakan baca-baca dulu tentang prinsip dasar bagaimana proses dari bahan-bahan organik menjadi biogas. Rancangan detail nggak ada gunanya kalau prinsip dasar prosesnya belum dikuasai. Ini saran saja. Silakan kumpulkan dan baca informasi tentang itu. Bisa nanya om google (www.google.co.id) terus masukkan kata kunci, misal proses anaerob, limbah organik, biogas.
Untuk contoh digester anaerob, silakan searching via http://images.google.co.id kemudian masukkan kata kunci digester anaerob atau kata-kata kunci sebelumnya tadi.
Semoga membantu.
24/10/2009 pada 9:35 am
ass.wr.wb.
saya aria, mhs tek.lingk. UPN surabaya, saya sudah lama mempelajari tentang biogas, n beberapa literatur juga sudah saya baca, sampai2 saya juga men desain reaktor anAerob untuk biogas yang bekerja secara Kontinyu sbg bahan Penelitian saya, tetapi saya juga ingin tahu desain atau rancangan yang saudara gunakan di sragen sbg bahan studi untuk saya…!
semoga berkenan mengirim detail Gambar dan desain yg anda buat ke e-Mail saya, terima kasih atas perhatiannya…
Wassalam…
24/10/2009 pada 10:38 am
w’slm ww
saya cuma copy, paste, and post saja. Bukan saya yang mendesain. Sepertinya teman2 dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.
Googling saja utk mencari no/email kontaknya.
Wslm
08/03/2010 pada 8:14 pm
pak boleh minta bagaimana cara pembuatan alatnya? plus foto alatnya .makasih
09/03/2010 pada 10:32 am
Baca komentar saya sebelumnya. Atau saya copy paste lagi:
saya cuma copy, paste, and post saja. Bukan saya yang mendesain. Sepertinya teman2 dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.
Googling saja utk mencari no/email kontaknya.
09/03/2010 pada 10:32 am
Baca komentar saya sebelumnya. Atau saya copy paste lagi:
“saya cuma copy, paste, and post saja. Bukan saya yang mendesain. Sepertinya teman2 dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.
Googling saja utk mencari no/email kontaknya.”