Salah satu contoh deskriminasi teknologi, entah karena ketakutan berlebihan atau karena terlalu fanatik dengan teknologinya sendiri, adalah terkait teknologi insinerator sampah. Contoh lain di bidang energi adalah pro dan kontra PLTN (tapi tidak saya bahas di sini).
Alkisah, akhir 70an atau awal 80an, Gubernur DKI Jakarta waktu itu jalan-jalan ke Singapura, dan terheran-heran, “kok Singapura bisa bersih begini ya?” Selidik punya selidik, ternyata Singapura punya senjata andalan untuk mengatasi produksi sampah, yaitu insinerator.
Pak Gubernur pulang ke Jakarta dan pingin membuat membangun insinerator seperti milik Singapura. Sebelum dibangun, dibuatlah kajian untung ruginya membangun insinerator. Dan hasil kajian konon (lagi-lagi konon!) mengatakan, bahwa insinerator lebih banyak membawa kerugian, yaitu masalah emisi (polusi udara) yang ditimbulkan, biaya invenstasi dan operasional yang tinggi, dll. Akhir cerita, insinerator tidak jadi dibangun. (Catatan: silakan dikoreksi jika ada yang salah, saya yakin ada yang lebih tahu kisah tersebut!)
Walau akhir ceritanya seperti itu, namun cerita dalam tulisan ini masih berlanjut. Cerita berlanjut ke cerita lain, yaitu permasalahan sampah khususnya di kota-kota besar yang tidak kunjung selesai. TPA-TPA penuh dan sering mendapat protes dari warga (atau dari LSM), khususnya masalah bau yang ditimbulkan, pencemaran sumur dan badan air oleh air lindi, sampai ke gunungan sampah di TPA yang longsong menimbulkan derita, bahkan kematian.
Berkali-kali terjadi blokade jalan masuk ke TPA, dan truk-truk pengangkut sampah tidak bisa masuk ke TPA. Akibatnya timbulan sampah tidak terangkut, dan timbul masalah-masalah lain, mulai dari estetika sampai ke bau busuk dari sampah yang mulai membusuk tidak terangkut dan kekhawatiran tumpukan sampah menjadi sumber penyakit.
Itu masalah-masalah yang disebabkan (langsung atau tidak langsung) karena TPA yang over kapasitas. Masalah lain terkait banjir karena sampah dibuang ke got dan saluran air, bahkan sungai. Tidak hanya banjir, badan air dan sungai-sungai, bahkan sampai ke laut dangkal di sekitar muara menjadi lebih kotor (sampah-sampah Jakarta sampai ke beberapa pulai di Kepulauan Seribu!).
Masalah yang lain lagi adalah pembakaran sampah liar di bak-bak penampungan sampah, di dekat pasar atau di sekitar perumahan, atau di pekarangan-pekarangan warga. Daripada tidak terangkut oleh truk pengangkut sampah sehingga menimbulkan bau dan masalah estetika yang mengganggu, maka warga berinisiatif membakar sendiri sampah-sampah yang mulai menumpuk.
Kita hanya tinggal bisa berandai-andai. Seandainya dulu Jakarta jadi membangun insinerator sampah seperti yang ada di Singapura dan di negara-negara maju lainnya, dengan insinerator canggih, yang emisi atau tingkat polusinya bisa ditekan dengan teknologi yang ada (filter, scrubber, DENOX, dll), maka bisa jadi timbunan sampah tertangani, TPA tidak sepenuh sekarang, jumlah sampah yang dibuang ke sungai (yang sampai mencemari laut di sepanjangan pantai Jakarta dan di sekitar Kepulauan Seribu) bisa berkurang, tidak ada pembakaran sampah liar yang polusinya tidak terkontrol, dsb.
Namun, kita dilarang (terlalu lama) berandai-andai. Kita harus lihat ke depan, kira-kira seperti apa sebaiknya. Jika memang diskriminasi teknologi insinerator memang memberikan kontribusi timbulnya permasalahan-permaslaahn di atas, maka sebaiknya kita harus koreksi diri, membuka pikiran dan pandangan, bahwa insinerator bukanlah hantu yang harus ditakuti dan harus diperangi. Jangan sampai kita main pokoknya, “pokoknya tidak boleh ada insinerator di bumi Indonesia.” Bagaimana pun, insinerator punyai keunggulan, yaitu bahwa dengan pembakaran timbunan sampah bisa diselesaikan dengan lebih cepat.
Mungkin ada pembaca yang mulai curiga, “wah … kayaknya penulis ini disponsori atau dibayar oleh produsen insinerator.” Saya katakan, tidak. Minimal sejauh ini tidak, tidak ada keuntungan finansial dari bisnis insinerator. Penulis hanya prihatin terhadap permasalah sampah yang tiada kunjungan selesai. Dan these penulis adalah, bahwa antipati atau diskriminasi teknologi terhadap teknologi insinerator telah menmberikan kontribusi nyata terhadap permasalah tersebut (baru these, pembuktian perlu data-data yang lengkap dan analisa yang lebih mendalam).
Motivasi tulisan ini adalah sekedar mencoba mendudukan permasalah teknologi pengolahan sampah secara lebih proporsional. Kalau penulis fanatik dengan bidang teknologi yang ditekuni, maka penulis akan termasuk yang menentang insinerator. Latar belakang studi dan kegiatan riset yang penulis tekuni selama ini, cenderung ke pengolahan limbah organik (a.l. sampah organik) dan cemaran-cemaran lainnya (termasuk cemaran minyak) secara biologis, mengandalkan aktivitas mikroba, bukan secara thermal seperti pembakaran dengan insinerator dan sebagainya.
These penulis yang kedua adalah, bahwa setiap jenis teknologi punya keunggulan dan kekurangan. Insinerator unggul dari sisi kecepatan memusnahkan tumpukan sampah, memiliki kelemahan potensi timbulnya polusi/emisi. (Catatan: kalau tidak diselesaikan, maka akan timbul emisi/polusi juga karena pembakaran liar oleh warga, dan kalau dibuang ke TPA juga menimbulkan permasalah air lindi dan juga poluis/emisi dan gas methan dan gas-gas lain yang terbentuk). Insinerator juga punya kelemahan terkait bahan yang dibakar. Kalau sampah yang dibakar cenderung basah, maka kebutuhan bahan bakar tambahan agar terjadi pembakaran yang baik cenderung tinggi, dan hal ini terkait dengan biaya.
Selain insinerator, tersedia sekian banyak teknologi yang bisa menutup kekurangan insinerator. Sebagai contoh, teknologi pengolahan sampah organik secara biologis, baik secara aerob maupun anaearob. Keduanya dapat dilakukan, namun keduanya memerlukan waktu yang cukup, dan tidak bisa menyelesaikan timbunan sampah dengan cepat. Seorang ahli komposting dari Jerman (yang pernah bekerjasama dengan BPPT) pernah mengatakan, bahwa komposting tidak bisa sendirian menyelesaiakan masalah sampah di Jakarta. Timbunan sampah terlalu banyak untuk bisa diselesaikan sendiri dengan komposting saja.
Agar komposting dan insinerator bisa berjalan dengan baik, maka sebaiknya ada pemilahan sampah di sumbernya, atau sortasi di tempat pengumpulan sementara. Di situ juga dapat dilakukan pengumpulan bahan-bahan dari sampah yang masih bisa digunakan atau didaur-ulang kembali. Masalah sampah adalah masalah kompleks, untuk itu harus diselesaikan secara integral.
Message atau inti dari tulisan ini adalah, jangan sampai ada lagi diskriminasi teknologi, setiap teknologi memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Untuk itu perlu dikombinasikan untuk mendapatkan hasil yg sebaik-baiknya. Jangan apriori atau antipati terhadap teknologi tertentu terlebih dahulu.
Serpong, 12 Februari 2011